Konsistensi

Saya memiliki seorang teman yang sangat menyukai olahraga gymnastic. Saat saya berkenalan dengannya dia sudah memperlajari gymnastic selama 2 tahun secara otodidak dari ebook yang dia beli secara online. Kira-kira harganya sekitar 2 juta rupiah untuk satu ebook. Dan ia memiliki lebih dari satu. Saya sangat mengaguminya karena ia memiliki kelenturan dan kekuatan yang hebat dan dapat melakukan gerakan yang mustahil saya lakukan. Saya juga berusaha mempelajari gerakan-gerakan tersebut namun setelah mencoba selama satu tahun lebih saya hanya bisa satu gerakan saja.

Lantas saya menyadari ada satu hal yang menjadi perbedaan besar dari dia dan saya.

Yaitu konsistensi.

Setiap hari ia berusaha melatih kekuatan dan kelenturan tubuhnya melewati tahapan-tahapan yang ada di petunjuk ebook. Sedangkan saya hanya seminggu sekali. Pernah saya baca ebook nya. Dan saat itu juga saya berpikir saya tidak bisa melewati tahap ini setiap hari, itu sangat melelahkan padahal hari-hari saya sudah cukup melelahkan.

Dari dua tahun yang lalu, sampai saat saya menulis tulisan ini, teman saya selalu memposting progress handstand yang dia pelajari dari ebook. Awalnya saya sangat kagum karena kerja kerasnya, setahun berjalan saya mulai bosan, karena dia melakukan hal yang sama berulang-ulang. Dan sampai sekarang akhirnya saya melongo dibuatnya. Disamping gerakan yang sempurna, ia menunjukkan ke saya konsistensi dan dedikasi yang luar biasa.

Untuk menjadi konsisten memang berat, membosankan, dapat mengorbankan hal-hal lain, tetapi hasil akhirnya sungguh indah.

Tuhan Yesus sendiri adalah contoh yang paling baik dari konsistensi. Dari awal pelayananNya di bumi, Ia konsisten menebar kasih. Ia mengubahkan hal-hal, peraturan tidak tertulis yang buruk di sekitarnya. Dalam penyebaran kasih itu tidak mudah. Berulang kali Ia dihakimi, diadili. Namun Ia tidak pernah berhenti. Tidak pernah berpaling dari jalan yang benar. Ia konsisten dalam memberitakan kasih.

Sahabatku, marilah kita merenung sejenak. Apakah kita sudah konsisten berada di jalan Tuhan? Atau masihkah kita berbelok?

Ketahuilah sahabatku bahwa Tuhan Yesus yang baik akan selalu mengiringi kita dalam setiap jalan sulit yang kita lewati. Engkau tidak sendiri.

Advertisements

Tuhan di mana sih?

Kadang – kadang kalau kita melihat di sekeliling kita, rasanya Tuhan itu tidak adil. Mengapa ada orang yang dilahirkan nyaris sempurna. Dia ganteng, kaya, orang tuanya mengasihi dia, dan mereka semua hidup dalam Tuhan.

Ketika kita mengalami pergumulan yang berat, hal-hal yang kita lihat tidak adil tersebut membuat kita bertanya – tanya. Tuhan di mana sih?

Tuhan tidak kemana mana sahabatku. Di saat engkau bersedih dan menangis, engkau tidak sendirian. Tuhan ada disekitarmu. Engkau cuma butuh lebih peka. Dan ketika engkau mengetahui Tuhan ada disampingmu, itu sudah cukup. Dia penghiburmu, Dia kuatmu.

Saya mengalami hal ini sendiri. Saat ini saya sedang menghadapi pergumulan yang berat dan panjang. Benar – benar menguras batin. Saya merasa sudah mengecewakan semua orang. Keluarga saya, pacar saya, teman – teman bahkan mengecewakan Tuhan. Sampai akhirnya saya hanya bisa mengurung diri di kamar, menangis. Saya pikir saya sendirian. Di mana Tuhan? Yang bener aja Tuhan. Aku ga bisa menghadapi masalah – masalah seperti ini.

Tuhan merespon, hanya saja kita perlu lebih peka. Tuhan memancarkan kasihnya melalui anjing saya, yang duduk di lantai, kemudian mendengar saya menangis, dia naik ke ranjang saya, duduk di sebelah saya, menatap saya seolah ingin saya mengerti kalau dia mengasihi saya. Pacar saya menghibur saya lewat pesan singkat seolah seberapapun mengecewakannya saya, dia tetap mengasihi saya. Orang tua saya tetap mau membiayai saya meskipun mereka kekurangan. Dan saya tahu, saya masih punya banyak sahabat yang memiliki kasih Tuhan dan mereka siap berbagi kasih Tuhan dengan saya.

Sahabatku yang terkasih, ketahuilah bahwa setiap orang memiliki pergumulannya sendiri sendiri. Hanya saja intensitas dan durasi dari pergumulan masing-masing orang berbeda-beda sehingga seringkali orang yang beruntung yang kita anggap sempurna tersebut tidak terlihat sedang bergumul.

Tuhan ada di sekitarmu. Pekalah! Dan jangan sampai pengharapanmu hilang. Karena masa depan sungguh ada!

Mommy – Me and My Family 2016

Me and My Mom

RTAkKGGTL

Ayat:
Amsal 6:20-22; 2 Timotius 1:4-5
; Amsal 30:17; Amsal 3:11; Amsal 23:22-24

Ilustrasi:
*   Pintu perlintasan rel kereta api, alarm kebakaran, atau jam weker.

*     Pintu perlintasan rel kereta api. Nah, kalian pernah ngk lagi jalan-jalan naik mobil atau naik motor ama papa dan mama trus tiba-tiba jalannya ditutup sama palang? Wah gara-gara ditutup, kalian mesti nunggu lama di depan rel kereta api itu. Ngapain sih kok bikin repot aja. Tapi ngk lama kemudia bunyi juguduguduk, juguduguduk. Kereta api nya lewat. Mungkin buat kita pintu perlintasan kereta api membuat ribet, menunggu, dll. Tp sebenarnya keberadaan bapak-bapak yang jaga pintu perlintasan kereta api itu penting untuk memastikan kalau pengguna jalan seperti kita tahu apakah ada bahaya atau tidak di depan. Peringatan, pemberitahuan, dan ketidaknyamanan itu melindungi kita dari kemungkinan bahaya yang ada didepan kita. Nah, seperti pintu perlintasan itu, kadang-kadang kita merasa ketika dibilangin, diperingatin, dikasih tahu mama kita rasa: duh, diomelin mulu ama mama. Padahal, sebenarnya, apa yang mama omongin itu buat kebaikan kita. Untuk melindungi kita dari hal-hal yang kita ngk tahu di depan yg mungkin membahayakan kita atau yg bisa bikin kita susah sndri.
*     Alaram kebakaran dan jam weker: sama-sama berisik bahkan menganggu tidur, tapi sebenarnya supaya tidak telat, untuk kebaikan kita. Jadi ilustrasi anak yang kadang merasa terganggu dengan nasehat atau omongan mamanya. Mungkin bagi mereka ini ngk menyenangkan tapi sebenarnya untuk kebaikan mereka sendiri. Entah itu jgn makan ini, jangan lakukan itu, suruh belajar, harus bgini atau begitu.

*     Teladan mama masing-masing laoshi.

Alur Pelajaran:
*     Ilustrasi pembuka (pintu perlintasan/alarm/weker)
*     Kebanyakan mama-mama sering sekali ngomongin anak-anak, menasehatkan  ini itu berulang-ulang.
*     Mamalah orang yang paling banyak kasih tahu, menyuruh, dan melarang anak-anak ini itu.
*     Tapi sebenarnya itu semua adalah untuk kebaikan anak-anak.
*     Kenapa harus berulang? Karena kitanya susah dengerin, kadang udah ngelakuin besok ngk lagi.
*     Mama sebenarnya juga cape ngomongin anak-anak seperti itu; tapi karena mama sayang, makanya terus menerus ngomongin lagi
*     Di alkitab kita baca kisah Timotius dan mama serta neneknya.
*     Ketika sudah besar, orang-orang bahkan ia dipuji dan di Paulus yang terkenal sangat selektif memilih rekan pelayanan (Paulus menolak Markus untuk pelayanan bareng dia karena dianggep tidak becus, sampai-sampai Paulus ribut dengan Barnabas)
*     Kenapa timotius bisa bertumbuh jadi pribadi yang baik, cinta Tuhan, dan dipercaya orang lain seperti ini? Karena ia mendengar didikan mama dan neneknya.
*     Didikan mereka tentang Tuhan dan iman menjadi bagian sehari-hari Timotius dan Timotius menuruti apa yang didengarnya.
*     Semua nasihat, omongan yang mama nya timotius beri membentuk dan memandu hidup timotius menjadi timotius yang baik
*     Omongan mama nya itulah yang melindungi timotius dari hal-hal buruk yang bisa saja ia lakukan kalau ia tidak dinasehati.
*     Mama sangat mengasihi kita karena itu mama kadang cerewet kasih tau ini itu.
*     Mari belajar mendengarkan mama yang selalu mendidik kita untuk kebaikan kita.
Kesaksian laoshi-laoshi tentang mama laoshi, terutama tentang didikannya atau sayangnya beliau pada laoshi
*     [hanya untuk anak yang lebih besar] Amsal 30:17

 

Aktivitas:
*    Tas yang sudah diprint dan digunting ls. Jen (xie2 ls Jen =P)
*     Tas dan aneka pilihan: http://www.writefromkaren.com/2011/05/06/friday-craft-homemade-mothers-day-cards
*    Tas: http://www.youtube.com/watch?v=j3Pdz-UH0Q0

Daddy – Me and My Family part 1

i_love_daddy_round_sticker-r3a18a14e85a449dcb5c5b6436e1ab1a3_v9waf_8byvr_324
Me and My Dad

Ayat:
1 Yohanes 3:1; Kolose 3:20; Amsal 23:22-24 (+Mazmur 68:5)

Ilustrasi:
*    Teladan papa-papa masing-masing laoshi (bisa dipakai di awal atau setelah firman sebelum aplikasi)
*    Tunjukkan gambar  banyak meja yang berbeda-beda. Ada yang kaki 4, kaki 3, kaki 1, ngk berkaki (nempel ke tembok), warna dan dari kayu, warna merah dan dari plastik, meja-meja futuristik, meja-meja klasik. “Ini meja, itu meja, yg ono juga meja. Sekalipun beda-beda, kita tahu ini semua meja.” Ada ke-meja-an dalam pikiran kita. Nah, ini papa nya si anu, si ono, si aku, smua ada masing-masing dan beda-beda, tapi kita tahu di antara papa yang beda2, ada yang kita sebut ke-bapa-an. Suatu kebapaan yang sempurna.

Alur Pelajaran:
*    Kita semua punya seorang Bapa yang sempurna
*    Ia sangat mengasihi kita [1 John 3:1]
*    Ia mempercayakan pertumbuhan kita yang disayanginya kepada ayah-ayah kita di dunia
*    Melaluinyalah, Tuhan memberikan makanan kita sehari-hari; menunjukkan kasih secara nyata; dan memberi teladan seorang pria.
*    Sekalipun mungkin terdengar sederhana, ini bukanlah pekerjaan yang mudah.
*    Kita sering berbuat tidak tepat (misbhave, have sinful tendency) yang membuat ayah kita yang sudah fokus untuk sulit-sulit mencari uang menjadi makin sulit.
*    Ayah-ayah kita juga manusia dan bukan superman. Mereka punya keterbatasan dan luka. Setiap orang, termasuk ayah kita punya kelemahan dan terkadang melakukan, memutuskan hal yang salah
*    Jadi, tidaklah mudah menjadi seorang ayah
*    Kita punya seorang Papa yang ideal, sempurna yang dalam diri papa kita, bisa kita lihat cerminan-Nya (So while there is no perfect dad , yet in every dad we see a reflection of our Perfect Father)
*    Kasih-Nya, pemeliharaan-Nya, pengajaran-Nya, dll
*    Tak sempurna namun dengan kerja keras papa kita berjuang mencerminkan gambaran Allah yang sempurna
*    Itulah kenapa kita harus belajar mengasihi ayah-ayah kita. =)
*    Inilah cara mengasihi dan menghormati ayah kita [Kolose 3:20] (silahkan guru memberi aplikasi sesuai rentang usia dan tipe anak)
*    Untuk antisipasi kalau ada anak yang tidak lagi punya ayah, baca juga [Mazmur 68:6]

Aktivitas:
*    Dasi: thecraftingchicks.com/daddy-ties-free-fathers-day-printable/
*    Kemeja berdasi: http://www.youtube.com/watch?v=zmZ9IItQlaQ

Wisdom from tooth

Recently, I kick my wisdom tooth out of my mouth. For those of you who are lucky to not have it or have it grow peacefully, wisdom tooth is third molar that grow in early 20 and can cause serious pain. Through a minor surgery, the tooth that has brought me one and a half year of headache is finally taken out. Beholding the tooth, I realized something. This is misery-causing tooth is fine, healthy, and strong one. It is even better than my other tooth. What makes is a pain in the ass mouth is the fact that it is misaligned,  disordered, and placed in wrong place. In this case is so near to my other tooth and pressing it so hard and causing headache.

Reflecting this tooth, a wisdom down on me: as this tooth good in itself but causing problem because of its improper place, so does our good desire is bringing evil and death to our live because its corrupt alignment. As Augustine says, we are creature of desire. We are made to desire God and all good things that He provide to us. Yet, desiring things without desiring God in it makes our desire disordered. Adam and Eve wanted the knowledge, that man wants pleasure, this girl wants love, that politician wants power. The desire itself is not necessarily evil. Only when our desire carving a wrong things or even good thing but without God’s order, we see our desire bring evil and chaos. So business of sin mortification is not venture of killing desire, but realigning and reordering our desire back to God and His good order/rule.

Voice of Truth

In our journey of faith, oftentimes we face same struggle again and again. It could be struggle against our sins, our shortcomings, or recurring problem of life. That’s when we can hear the world shout, “boy, you can’t.” “You won’t make it, little girl.” “You can’t change.” Yet, among those noise, there is a voice of truth, of our Maker and Redeemer. It says, “don’t be afraid, I’ll be with you, just do it, it’s for my glory.”

Voice of Truth by Casting Crown